Tuesday, June 27, 2017

RINDU DI BULAN MEI



Tepat bulan MEI lalu, aku merayakan rinduku.
aku bertepuk tangan, 
memberikan senyuman terbaikku,
menggunakan gaun terbaikku, 
dan bersolek tentunya. 

Ditemani warna lipstick yang tak terlalu tebal.
Semua biasa, seperti yang disukai oleh bulan MEI.
Kebiasaan itu tak mau hilang semenjak bulan MEI berubah menjadi huruf kapital dalam hidupku.

Tepat bulan MEI lalu, aku merayakan rinduku. 
waktu seakan-akan sudah cepat saja menunjukkan pergantian bulan pada kalender pada waktu itu. Jantungku berdetak, tak menentu iramanya, menjadi lagu yang hamburan. 
Namun, tetap tak kuhiraukan, ku kenakan sepatu kesukaanku berwarna hitam dan sedikit dihiasi sol putih. 
Masih ingat MEI bulan yang sederhana tapi membuatku malu-malu waktu itu.

Tepat bulan MEI lalu, aku merayakan rinduku bersamamu. Semuanya, sederhana namun menjadi kisah yang tak ada akhirnya. 


Surabaya, Mei 2016

SEPASANG BOLA MATA TAK BERTUAN

Dia hanya duduk sebentar, lalu dibuatnya mata itu terlelap.
Sesaat ia lesap dibawanya perjalanan panjang, menunggu kota tujuannya sebagai pijakkan kedatangnya.
Mungkin waktu terasa lebih lama daripada biasanya, mengingat ada sepasang bola mata yang harus ditinggalkannya. Seandainya saja tidak ada yang perlu di kerjakannya di kota itu, pasti kedua tatapannya sudah diambil oleh sepasang bola mata yang tak bertuan malam itu.
*inhale_exhale*
Dia masih terlelap dengan harapan ingin 1,5 jam saja ia dibawa mimpi kemana-mana. Bertemu dengan sepasang bola mata yang semetara tak bertuan. Ingin sekali dia melemparkan pujian, senyuman yang membuat orang lain menjadi cemburu pada sepasang bola mata yang saling bertatapan.
“OH!, rasanya rindu ingin menggenggam sela-sela manis ruang kosong ke-lima jarinya” sentaknya dalam hati.
Tersadar, ini semua dia lakukan demi sepasang bola mata yang tak bertuan, dia harus berkelana waktu itu. Berkelana sejenak.
Dia yang duduk sebentar di kursi kereta, menunggu langkah kaki yang melanjutkan tujuannya, akhirnya sampai di kota tujuannya yang hanya dijemput oleh langit sore yang kemerahan.


“Dia berharap, kau di sampingnya, hai sepasang bola mata tak bertuan”