Tepat bulan MEI lalu, aku merayakan rinduku.
aku bertepuk tangan,
memberikan senyuman terbaikku,
menggunakan gaun terbaikku,
dan bersolek tentunya.
Ditemani warna lipstick yang tak terlalu tebal.
Semua biasa, seperti yang disukai oleh bulan MEI.
Kebiasaan itu tak mau hilang semenjak bulan MEI berubah menjadi huruf kapital dalam hidupku.
Tepat bulan MEI lalu, aku merayakan rinduku.
waktu seakan-akan sudah cepat saja menunjukkan pergantian bulan pada kalender pada waktu itu. Jantungku berdetak, tak menentu iramanya, menjadi lagu yang hamburan.
Namun, tetap tak kuhiraukan, ku kenakan sepatu kesukaanku berwarna hitam dan sedikit dihiasi sol putih.
Masih ingat MEI bulan yang sederhana tapi membuatku malu-malu waktu itu.
Tepat bulan MEI lalu, aku merayakan rinduku bersamamu. Semuanya, sederhana namun menjadi kisah yang tak ada akhirnya.
Surabaya, Mei 2016